DAKWAH MULTIKULTURAL 5

 

Dakwah dalam Kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya

Venna Narulita Rizqi

Komunikasi dan Penyiaran Islam

Fakultas Dakwah dan Komunikasi

B01219052@student.uinsby.ac.id

ABSTRACT

This article discusses Da'wah in the Study of Cross-Cultural Communication Patterns with the issues being discussed; 1) Social and Cultural Basis of the State. 2) Identity Politics and Subcultures. 3) Sociology of Da'wah. 4) Scope of Intercultural Da'wah. 4) Principles of Intercultural Da'wah. 5) Intercultural Communication Model.

In this paper it is argued that da'wah has a communication pattern that can be done by everyone. Cultural differences are not a barrier to communication.

Keywords: Da'wah, Communication, Intercultural, Nation

ABSTRAK

Artikel ini membahas tentang Dakwah dalam Kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya Dengan masalah yang dibahas; 1) Dasar Sosial dan Budaya Negara. 2) Politik Identitas dan Subkultur. 3) Sosiologi Dakwah. 4) Ruang Lingkup Dakwah Antarbudaya. 4) Prinsip Dakwah Antarbudaya. 5) Model Komunikasi Antarbudaya.

Dalam tulisan ini berpendapat bahwa dakwah memilii pola komunikasi yang dapat dilakukan semua orang. Perbedaan budaya tidak menjadi penghalang adanya komunikasi.

Kata kunci: Dakwah, Komunikasi, Antarbudaya, Bangsa

PEMBAHASAN

Dasar Sosial dan Budaya Negara

Sistem sosial budaya merupakan konsep untuk menelaah asumsi-asumsi dasar dalam kehidupan masyarakat. Pemberian makna konsep sistem sosial budaya dianggap penting karena tidak hanya untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan sistem sosialbudaya itu sendiri tetapi memberikan eksplanasi deskripsinya melalui kenyataan didalam kehidupan masyarakat.

Politik Identitas dan Subkultur

Menguatnya politik identitas di ranah lokal bersamaan dengan politik desentralisasi. Pasca pemberlakuan UU No. 22/1999, gerakan politik identitas semakin jelas wujudnya. Bahkan, banyak aktor politik lokal maupun nasional secara sadar menggunakan isu ini dalam power-sharing.

Berbagai subkultur yang berbeda-beda tidak selalu sia-siadalam upaya merebut ruang dari budaya-budaya dominan karena memang tidak ada budaya dominan. Subkultur adalah sekedar ekspresi kebebasan konsumer untuk menciptakan budaya mereka sendiri.[1]

Sosiologi Dakwah

Sosiologi dakwah dapat dikatakan sebagai cabang dari sosiologi umum yang mengkaji masyarakat dakwah secara sosiologis, dengan tujuan mencari dan mengungkap fakta-fakta ilmiah demi kepentingan masyarakat dakwah khususnya dan masyarakat luas umumnya.

Ruang Lingkup Dakwah Antarbudaya

Kajian dakwah antar budaya memiliki ruang lingkup kajian ilmu dakwah yang meliputi: [2]

  1. Mengkaji dasar-dasar tentang adanya interaksi simbolik da’i dengan mad’u yang berbeda latar belakang budaya yang dimilikinya dalam perjalanan dakwah para da’i.
  2. Menelaah unsur-unsur dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya yang berhubungan dengan unsur da’i, materi, metode, media,mad’u dan dimensi ruang dan waktu dalam keberlangsungan interaksi berbagai unsur dakwah.
  3. Mengkaji tentang karakteristik-karakteristik manusia baik posisinya yang menjadi da’i maupun yang menjadi mad’u melalui kerangka metodologi dalam antropologi.
  4. Mengkaji tentang upaya-upaya dakwah yang dilakukan oleh masing-masing etnis.
  5. Mengkaji problem yang ditimbulkan oleh pertukaran antar budaya dan upaya-upaya solusi yang dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi jati diri budaya masing-masing (Aripudin, 2012. 55-56 )

Prinsip Dakwah Antarbudaya

Komunikasi berhubungan dengan perilaku manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan manusia-manusia lainnya. Hampir setiap manusia membutuhkan hubungan sosial dengan orang lain dan kebutuhan ini terpenuhi melalui pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia manusia yang tampa berkomunikasi akan terisolasi. Pesan muncul lewat perilaku manusia, sebelum perilaku disebut pesan, perilaku harus memenuhi dua syarat. Pertama perilaku harus diobservasi oleh seseorang, dan kedua perilaku harus mengandung makna. Artinya, setiap perilaku yang dapat diartikan atau mempunyai arti adalah suatu pesan. Kedua, perilaku mungkin disadari ataupun tidak disadari (terutama perilaku nonverbal),perilaku yang tidak disengaja ini menjadi pesan bila seseorang melihatnya dan menangkap suatu makna dari perilaku itu.[3]

Model Komunikasi Antarbudaya

Model komunikasi memberi teoritikus suatu struktur untuk menguji temuan mereka dalam dunia nyata. Gordon Wiseman dan Larry Baker mengemukakan bahwa model komunikasi mempunyai tiga fungsi : pertama melukiskan proses komunikasi; kedua menunjukkan hubungan visual; ketiga membantu dalam menemukan dan memperbaiki kemacetan komunikasi.[4]

Menurut Porter dan Larry A. Samovar, Budaya mempengaruhi perilaku komunikasi individu, budaya yang berbeda akan menghasilkan pengaruh serta sifat komunikasi yang berbeda pula. Ketika seorang individu berkomunikasi dengan individu lain yang memiliki kebudayaan berbeda maka makna pesan yang disampaikan komunikator akan berubah mengikuti persepsi budaya komunikan.

Menurut William B. Gudykunst dan Young Yun Kim, komunikasi yang dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari budaya yang berlainan, atau orang asing. Dalam model ini, masing-masing individu berperan sebagai pengirim sekaligus juga penerima pesan. Dengan begitu, pesan yang disampaikan seseorang merupakan umpan balik untuk lawan bicaranya. Terjadi penyandian serta penyandian balik pesan. Gudykunst dan Kim menyatakan bahwa penyandian dan penyandian balik pesan tersebut merupakan sebuah proses interaktif. Proses tersebut dipengaruhi oleh filter konseptual seperti budaya, sosiobudaya, psikobudaya, dan faktor lingkungan.

Dari model komunikasi Gudykunst dan Kim, penyandian pesan dan penyandian balik pesan merupakan proses interaktif yang dipengaruhi oleh filter-filter konseptual yang dikategorikan menjadi faktor faktor budaya, sosiobudaya, psikobudaya dan faktor lingkungan.[5]

Pengaruh budaya (cultural) meliputi faktor faktor yang menjelaskan kemiripan dan perbedaan budaya, misalnya pandangan dunia (agama), bahasa,sikap kita terhadap manusia yang berarti mempengaruhi nilai, norma, danaturan. Pengaruh sosiobudaya (sosiocultural) adalah pengaruh yang menyangkut proses penataan sosial. Proses ini berkembang berdasarkan interaksi dengan orang lain. Sosiobudaya ini menyangkut konsep diri, peran kita dalam kelompok, definisi kita mengenai hubungan antarpribadi. Pengaruh psikobudaya (psychocultural) meliputi dimensi penataan pribadi (proses yang memberi stabilitas pada proses psikologis). Faktor faktor psikobudaya inimeliputi stereotip dan sikap ( misalnya etnosentrisme dan prasangka). Salah satu unsur lagi yang mempengaruhi kita dalam menyandi pesan dan menyandibalik pesan adalah lingkungan (environment) dimana letak geografis, iklim,situasi arsitektural, dan persepsi terhadap lingkungan tertentu mempengaruhi kita dalam menafsirkan rangsangan dan memprediksikan penyandian balik pesan.

 



[1] Aniek Rahmaniah, Budaya dan Identitas, (Sidoarjo: Dwiputra Pustaka Jaya, 2012)

[2] Masykurotus Syarifah, Budaya dan Kearifan Lokal, E-Jurnal IAIN Surakarta Vol. 1, No. 1, Januari – Juni 2016

[3] Deddy Mulyana & Jalaludin Rahmat, Komunikasi Antar Budaya Panduan Berkomunikasidengan Orang-Orang Berbeda Budaya, (Bandung; PT. Remaja Rosdakarya, 2006), hal 12

[4]  Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar . hlm. 133

[5] Ibid, hlm. 170

Komentar

Posting Komentar