HIDUPMU PADA SHALATMU
PROFIL Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Dilahirkan di Lamongan,
09-06-1957; beristri, 7 anak, 3 cucu; alumni Ponpes Ihyaul Ulum Gresik (1975);
Guru Besar/Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya (sejak 2004). Berdakwah
di luar negeri, tutur ayah tujuh anak ini, sangat berlainan dengan di dalam
negeri. Tantanganya begitu berat dan beragam.
Di Negara-negara Eropa
dan sebagian Asia, tantangan itu berupa bentuk pemikiran. Banyak sekali
pertanyaan-pertanyaan yang jauh di luar jangkauan pemikiran kita. Semisal
tentang kenapa tahiyat harus menjulurkan jari telunjuk, kenapa anak yang masih
dalam taraf pertumbuhan kok justru disuruh berpuasa, atau pertanyaan-pertanyaan
yang bernada melecehkan. “Masak kami harus mengikuti agama kamu, yang secara
teknologi sangat terbelakang, orangnya keras-keras dan ekonominya nggak maju.
Apa yang bisa dibanggakan dari agama kamu?” kisahnya mencontohkan.
Ketika berdakwah pada
situasi semacam itu, tentu saja suami Rif’atul Ifadah ini turut berpenampilan
trendy dan tak berpeci, serta tak ada “qalallahu ta’ala” di dalam ceramahnya.
Kaum lesbi itu bahkan diajak bernyanyi-nyai riang-gembira. “Makanya, di tanah
air saya selalu belajar nyanyi mulai dari qasidah, musik pop, rock, ndangdut
bahkan ngidung sekalipun. Di sela-sela kegembiraan itulah, mereka kita ajak
berdialog dan diarahkan menuju jalan agama yang benar,” tuturnya memberikan
alasan.
Yang mengesankan, ketika
pengurus MUI Jawa Timur ini berdakwah di Jepang. Seusai shalat tarawih, dirinya
berceramah dan didendangkanlah shalawat Nabi. Di sela-sela lantunan irama
shalawat itu, diselingi sebuah doa: Ya.. Rabbiy, yang tidak ada Tuhan selain Engkau,
Dzat yang menyembuhkan. Ada orang Indonesia yang istrinya – orang Jepang –
sedang sakit keras. Ketika dirinya melantunkan do’a tersebut, lelaki itu dengan
khusyu’ menangis ingat istrinya yang di rumah. Saat itu katanya ada para
malaikat yang tengah mengerubungi di sekelilingnya. “Istrinya sembuh. Dan dia
sering berkomunikasi dengan saya,” kenangnya dengan hati berbunga.
Gambaran semacam itu, kata Ali Azis, sudah djelaskan
oleh al-Qur’an. Seperti yang tertera di dalam surah al-Baqarah: Jika mereka
diajak ke jalan kebenaran, mereka mengatakan: Apakah kami harus beriman seperti
imannya orang yang bodoh-bodoh itu? “Tapi ketika berdakwah di luar negeri, saya
merasa ayat tersebut seakan-akan baru turun kemarin,” tukasnya dengan irama
yang berat. “Meskipun demikian, saya semakin senang dakwah ke luar negeri. Di
samping kian banyak tahu tentang dunia luar, wawasan terus bertambah, serta
ya.. ngitung-ngitung sambil ngetes kemampuan,” ujarnya meneguhkan tekad.
PERBAIKI SHALATMU, MERUBAH HIDUPMU

Shalat adalah sarana komunikasi antara seorang hamba dengan Rabbnya. Menurut syariat Islam, praktik salat harus sesuai dengan segala petunjuk tata cara Nabi Muhammad sebagai figur pengejawantah perintah Allah. Dalam hadist Qudsi, Allâh Azza wa Jalla berfirman :
Aku telah membagi ash-shalat (surat al-Fâtihah) antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua macam, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.
Apabila hamba membaca ‘Segala puji hanya bagi Allâh, Rabb semesta Alam,’ maka Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’
Jika ia mengucapkan, ‘Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, ‘ maka Allâh berfirman , ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.
Jika ia mengucapkan, ‘Yang menguasai hari pembalasan, ‘ maka Allâh berfirman , ‘Hamba-Ku telah memuliakan-Ku.
Jika ia mengucapkan, ‘Hanya kepada-Nya kami beribadah dan hanya kepada-Nya kami memohon, ‘ maka Allâh berfirman , ‘Inilah bagian bagi Diri-Ku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku adalah apa yang diminta.
Dan jika ia mengucapkan, ‘Berilah petunjuk kepada kami atas jalan yang lurus, yaitu jalan yang telah Engkau beri kenikmatn bagi yang mengikutinya, bukan jalan yang Engkau murkai dan bukan pula Engkau sesatkan, ‘ maka Allâh berfirman , ‘Ini bagi hamba-Ku dan bagi hamba-Ku adalah apa yang dimintanya. [HR. Muslim]
Shalat merupakan taman berbagai
ibadah. Di dalam taman itu terdapat tanaman-tanaman yang berpasangan nan indah
(dzikir-dzikir yang indah).
- Al-qiyâm (berdiri) yang pada saat itu seseorang yang sedang shalat membaca Kalâmullâh (al-Qur’ân.
- Rukû’. Saat ruku’ ini, seseorang yang sedang shalat mengagungkan Rabbnya
- I’tidâl (berdiri dari ruku’). Momen ini dipenuhi oleh orang yang sedang shalat dengan pujian kepada Allâh,
- Sujûd. Pada saat sujud, orang yang shalat bertasbîh (berdzikir dengan menyebut kemahasucian Allah k –red) yang Maha tinggi juga sembari berdo’a kepada-Nya
- Qu’ûd (duduk). Momen dipergunakan untuk berdo’a dan membaca tasyahhud.
- Salam, menjadi penutup rangkaian kegiatan dalam ibadah shalat.
Shalat merupakan cahaya di dalam
hati-hati kaum Mukminin dan juga cahaya saat kaum manusia dikumpulkan pada hari
kiamat untuk mempertanggungjawabkan amal mereka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
الصَّلاَةُ
نُوْرٌ
Shalat
adalah cahaya.[HR. Muslim]
Khusyu’ dalam shalat yaitu menghadirkan hati serta
menjaga pelaksanaan shalat termasuk penyebab masuk surga. Allâh Azza wa Jalla
berfirman:
قَدْ
أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴿٢﴾
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ ﴿٣﴾ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ
فَاعِلُونَ ﴿٤﴾ وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ﴿٥﴾ إِلَّا عَلَىٰ
أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ﴿٦﴾
فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ ﴿٧﴾ وَالَّذِينَ
هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ ﴿٨﴾ وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ
صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ ﴿٩﴾ أُولَٰئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ ﴿١٠﴾ الَّذِينَ
يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu)
orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri
dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang
menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap
isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka
dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka
itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara
amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara
shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan
mewarisi surga Firdaus. mereka kekal di dalamnya. [Al-Mukminûn/23:1-11]
Dari solat yang benar dan khusyu akan merasuk ke jiwa dan hati terdalam, hati akan menghayati dan memahami makna yang terkandung dari sholat tersebut, kemudian dari pemahaman akan terlihat dari segala perbuatan kita yang menunjukkan bagaimana kualitas sholat, ibadah dan perbuatan kita kepada Allah yang disebut habluminallah.
Hati yang selalu mengingat Allah akan tercermin dari aura, perkataan dan perbuatan kita yang selalu terjaga dan dapat dikendalikan karena kita akan merasa takut jika tidak dapat mengendalikan diri dari kemaksiatan, kita akan selalu merasa diawasi dari segala perbuatan yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Sekecil apapun itu.
Dalam acara pelatihan Terapi Shalat Bahagia yang dilakukan pada Sabtu, 23 November 2019 di Yayasan Kun Yaquta, para mahasiswa semester awal diajarkan cara shalat secara khusyuk dan memaknai setiap gerakannya. Dengan pembicara Prof. Dr. M. Ali Aziz sendiri selaku penulis buku ’60 Menit Terapi Shalat Bahagia’ menyampaikan materi demi materi dengan bahasa yang mudah dipahami.
Di awal acara kita disuguhkan dengan video perkenalan siapa itu Prof. Dr. M. Ali Aziz. beliau kerap menjadi imam besar di masjid besar yang ada di luar negeri. Disampaikan bahwa shalat merupakan gerakan yang dimana maknanya kita memohon kepada Allah SWT. Dalam shalat kita harus memahami betul makna yang terkandung didalamnya. Berikut makna setiap gerakan shalat yang dijelaskan dalam buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia:
- Takbiratul
Ikhram (berdiri)
Memiliki
kata kunci SUBHAN (Syukur, Bimbingan, Ketahanan iman). Takbiratul Ikhram
menunjukan dari awal mula aktifitas kita diwaktu pagi hari.
- Rukuk
Memiliki
kata kunci TURUT (Tunduk dan Menurut). Rukuk menunjukan agar kita selalu
menjadi seorang hamba yang ta’at serta tawadhuk. Segala sesuatu hanyalah milik
dan dari Allah maka simpan baik-baik
sombong mu.
- I’tidal
(berdiri setelah rukuk)
Memiliki
kata kunci HADIR (Hak pujian dan Takdir). I’tidal mengartikan bahwa yang
mempunyai hak atas pujian hanyala Allah yang maha Agung dan yang menetapkan
takdir setiap makhluk hanyalah Allah. Tidak ada satu makhluk pun yang
mengetahui takdirnya kecuali Allah. Takdir adalah rahasia Allah dari
pengetahuan semua makhluknya.
- Sujud
Memiliki
kata kunci MASJID (Maaf, Sinar Jiwa dan Raga). Sujud ialah salah satu gerakan
sholat yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada Allah, karena pada
saat sujud kita sedang berkomunkasi langsung dengan Allah. Sujud merupakan
bentuk rasa maaf atau memohon ampun atas kesalahan-kesalahan yang telah kita
perbuat. Kita akan menyadari dengan sendirinya.
- Tasyahud awal
(duduk diantara dua sujud)
Memiliki
kata kunci AKSI (Ampunan, Kasih sayang, Sejahtera dan memperkuat Iman). Do’a
dalam duduk diantara dua sujud sangat mencakup atas apa yang terjadi dalam
kehidupan kita sehari-hari.
- Tasyahud akhir
(duduk diakhir sholat)
Memiliki
kata kunci SOSIAL (Sholawat, Persaksian dan Tawakkal). Tasyahud akhir
menunjukan akan kesaksian kita atas utusan Allah yang mulia yakni nabi Muhammad
saw. serta rasa pasrah kita akan semua do’a dan usaha yang telah kita lakukan
selama ini.
Sesungguhnya
Allah selalu mendengar doa kita, namun terijabahnya doa memiliki kekuatan
masing-masing. Ada orang yang selalu shalat tepat waktu tetapi doa yang
dipanjatkan belum terjabah. Ada juga orang yang menunaikan shalat wajib serta
sunnah yang doa nya langsung dijabah. Terijabahnya doa suatu kaum adalah
kehendak Allah SWT. Allah mengijabah doa setiap kaum sesuai dengan
kemampuannya.


Barakallah terimakasih ilmunya kak, sangat menambah wawasan, semangat terus untuk karya karya selanjutnya kak💗
BalasHapus👍👍👍
BalasHapusmasya allah,sangat membantu sekali semoga bermanfaat bagi kita semua yang membacanya,dan jangan lupa untuk diterapkan dikehidupan sehari-hari.
BalasHapusMantab sekali laporannya, terus berkarya yaaa
BalasHapus