DAKWAH MULTIKULTURAL 4

DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTAR ETNIK, RAS DAN BANGSA

Venna Narulita Rizqi

Komunikasi dan Penyiaran Islam

Fakultas Dakwah dan Komunikasi

B01219052@student.uinsby.ac.id

ABSTRACT

This article discusses Da'wah in communication between ethnic groups, races and nations. With the issues discussed; 1) Intercultural communication. 2) Variety of Communication 3) Tolerance. 4) Religious moderation. 5) Diversity in Bhinneka Tunggal Ika

In this paper it is argued that da'wah can be conveyed to all people with a language and delivery that does not corner various parties. Many kinds of communication can be used for reference delivery.

Keywords: Da'wah, Intercultural Communication, Nation

ABSTRAK

Artikel ini membahas tentang Dakwah dalam Komunikasi antar etnik, ras dan bangsa. Dengan masalah yang dibahas; 1) Komunikasi antar budaya. 2) Ragam Komunikasi 3) Toleransi. 4) Moderasi beragama. 5) Keragaman dalam Bhinneka Tunggal Ika

Dalam tulisan ini berpendapat bahwa dakwah bisa disampaikan kepada semua orang dengan bahasa dan penyampaian yang tidak menyudutkan berbagai pihak. Banyak macam komunikasi bisa digunakan untuk acuan penyampaiannya.

Kata kunci: Dakwah, Komunikasi Antar Budaya, Bangsa

PEMBAHASAN

Komunikasi antarbudaya merupakan proses komunikasi latar belakang budaya yang berbeda, seperti antar suku dan ras. Hakikatnya komunikasi antar budaya ini adalah proses yang interaktif antar komunikator dan komunikan. Komunikasi antar budaya juga dapat diartikan sebagai proses antara dua individu dengan perbedaan kebiasaan termasuk juga agama. Secara umum komunikasi budaya ini rawan akan konflik karena perbedaan makna dalam suatu kebiasaan. Kesalahan persepsi seringkali terjadi diantara dua kelompok atau orang dengan latar belakang yang berbeda. Menurut Hall, “Budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya” dengan kata lain ketika kita membahas kedua hal tersebut sulit untuk menentukan mana yang menjadi suara dan mana yang menjadi gemanya, karena mempelajari komunikasi dan budaya merupakan sebuah refleksi budaya[1].

Selain komunikasi antarbudaya, adapun komunikasi lain yang eksistensinya tidak kalah dengan komunikasi antarbudaya. Komunikasi politik contohnya, menurut Mc Nair yang dikutip oleh Hafied Cangara murnimembicarakan tentang alokasi sumber daya publik yang memiliki nilai, apakahitu nilai kekuasaan atau nilai ekonomi, petugas yang memiliki kewenanganuntuk memberi kekuasaan dan keputusan dalam pembuatan undang-undangatau aturan, apakah itu legislatif atau eksekutif, serta sanksi-sanksi apakah itudalam bentuk hadiah atau denda.[2] Ada juga komunikasi kesehatan, adalah proses komunikasi yang terjadi dalam lingkup paramedis. Kemudian komunikasi terapeutik, adalah komunikasi yang bukan hanya dalam lingkup paramedis tapi juga para terapis dan perawat. Lalu komunikasi dakwah yang merupakan suatu metode dalam penyampaian komunikasi falam menyampaikan nilai islam. terakhir ada komunikasi krisis dan bencana yang isinya seperti sekarang tentang virus dan krisis ekonomi.

Banyaknya budaya juga berpengaruh pada agama. Agama di Indonesia yang beragam membuat masyarakatnya juga menganut perbedaan. Dalam islam, tidak ada yang melarang untuk membantu dan berhubungan baik dengan pemeluk agama lain dalam bentuk apapun selama itu tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan ibadah wajib.[3] Menurut Sardar dalam Jurnal Pancasila dan Kewrganegaraan, membina sikap toleransi umatberagama di Indonesia menjadi tanggungjawab sosial bersama dan merupakan budaya positif yang perlu dilanjutkan. Pandangan ini muncul dilatarbelakangi oleh seringnya terjadinya konflik hubungan antar umat beragama di Indonesia.[4]

Agama yang beragam membuat kita tak bisa lepas dari konflik keagamaan yang marak terjadi. Keberagaman yang eksklusif serta adanya kontestasi dalam kelompok memicu gesekan antar umat beragama. Dengan demikian moderasi beragama merupakan sebuah jalan tengah di tengah keberagaman agama di Indonesia. Moderasi merupakan budaya Nusantara yang berjalan seiring,dan tidak saling menegasikan antara agama dan kearifan lokal (local wisdom). Tidak saling mempertentangkan namun mencari penyelesaian dengan toleran.[5]

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika tertulis pada lambang negara Indonesia yaitu Garuda Pancasila. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Makna Bhinneka Tunggal Ika adalah meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap satu kesatuan. Semboyan ini menggambarkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang memiliki keberagaman suku bangsa, budaya, bahasa daerah, agama dan kepercayaan, ras maupun antargolongan.

Keberagaman masyarakat Indonesia memiliki arti penting sebagai berikut: Keberagaman tersebut akan menjadi modal sosial yang besar untuk membangun bangsa dan negara Indonesia yang maju dan sejahtera. Sebaliknya, bila keberagaman tersebut tidak dapat dikelola dengan baik dan tidak dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, maka dapat menjadi penyebab timbulnya konflik yang membahayakan keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Dengan demikian, semboyan Bhinneka Tunggal Ika dipergunakan sebagai upaya mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Meskipun berbeda-beda suku bangsa, adat istiadat, ras dan agama, masyarakat Indonesia tetap bersatu dalam perjuangan mengisi kemerdekaan. Untuk mewujudkan cita-cita negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Keberagaman bukan unsur perpecahan namun justru yang menciptakan kesatuan bangsa melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kesatuan adalah upaya untuk mempersatukan perbedaan suku, adat istiadat, ras dan agama untuk menjadi satu yaitu bangsa Indonesia.[6]




[1] Deddy Mulyanan & Jalaludin Rakhmat. Komunikas Antar Budaya Panduan Berkomunikasidengan Orang-Orang Berbeda Budaya.(Bandung: PT.Remaja Rosdakarya,2006), hal 25

[2] Hafied Cangara, Komunikasi Politik: Konsep, Teori dan Strategi, (Jakarta: Rajawali Pers,2009), hlm. 36

[3] Abu Bakar. UIN Sultan Syarif Kasim Riau TOLERANSI: Media Komunikasi Umat Bergama,Vol.7, No.2 Juli-Desember 2015. Hlm 6

[4] Eko Digdoyo (2018).Kajian Isu ToleransiBeragama, Budaya, dan Tanggungjawab Sosial Media : Jurnal Pancasiladan Kewarganegaraan Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Vol 3 No 1 :Halaman 42 - 59

[5] Agus Akhmadi. “MODERASI BERAGAMA DALAM KERAGAMAN INDONESIARELIGIOUS MODERATION IN INDONESIA’S DIVERSITY”. Jurnal Diklat Keagamaan, Vol. 13, no. 2, Pebruari - Maret 2019

Komentar

Postingan Populer