Dakwah Multikultural 8

 


Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah Multikultural Moderen

Venna Narulita Rizqi

Komunikasi dan Penyiaran Islam

Fakultas Dakwah dan Komunikasi

B01219052@student.uinsby.ac.id

ABSTRACT

This article discusses Da'wah in the Study of Cross-Cultural Communication Patterns with the problems discussed; 1) Barriers to the Intercultural Communication Process. 2) Types of Da'wah in Cross-Cultural Communication. 3) Intercultural Communication Competence. 4) Barriers and Challenges of Multicultural Da'wah

This paper argues that a da'wah communication has obstacles, especially cross-cultural communication in modern multicultural da'wah.

Keywords: Barriers, Da'wah, Communication, Intercultural, Multicultural, Modern

ABSTRAK

Artikel ini membahas tentang Dakwah dalam Kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya Dengan masalah yang dibahas; 1) Hambatan dalam Proses Komunikasi Antar Budaya. 2) Tipe Dakwah dalam Komunikasi Lintas Budaya. 3) Kompetensi Komunikasi Antar Budaya. 4) Hambatan dan Tantangan Dakwah Multikultural

Dalam tulisan ini berpendapat bahwa sebuah komunikasi dakwah memiliki hambatan terutama komunikasi lintas budaya dalam dakwah multikultural modern.

Kata kunci: Hambatan, Dakwah, Komunikasi, Antarbudaya, Multikultural, Moderen

PEMBAHASAN

Hambatan dan Proses Komunikasi Antarbudaya

Menurut Badudu Zain, hambatan sering diartikan sebagai halangan atau rintangan yang dialami. Seringkali, komunikasi antar individu men-galamai hambatan yang disebabkan tidak adanya pengetahuan yang mendalam mengenai perbedaan latar belakang budaya pihak lain. Komunikasi antarbudaya ada diantara masyarakat yang mempunyai kebudayaan yang berbeda, baik dalam lingkungan suatu bangsa maupun lingkungan antar bangsa.[1] Karenanya komunikasi sangat berhubungan erat dengan perilaku manusia. Rogers dan Shoemaker mendefinisikan perilaku sebagai wujud dari tindakan dan sikap, sedangkan sikap dipengaruhi oleh persepsi, dan persepsi dipengaruhi oleh karakteristik individu.[2]

Charley H. Dood menjelaskan komunikasi antarbudaya dalam konteks komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi, antarpribadi dan kelompok dengan tekanan pada perbedaan latar belakang budaya yang mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta.  Sedangkan Samovar dan Porter merumuskan komunikasi antar budaya sebagai komunikasi antara orang-orang yang berbeda kebudayaan, misalnya antara suku bangsa, antaretnik dan ras serta antar kelas sosial.

Secara umum, hambatan terbagi menjadidua, yakni hambatan internal dan hambatan eksternal. Hambatan internal adalah hambatan yang berasal dari dalam diri individu yang terkait kondisi fisik dan psikologis. Contohnya, jika seorang mengalami gangguan pendengaran maka ia akan mengalami hambatan komunikasi. Demikian pula seseorang yang sedang tertekan (depresi) tidak akan dapat melakukan komunikasi dengan baik. Sedangkan hambatan eksternal, adalah hambatan yang berasal dari luar individu yang terkait dengan lingkungan fisik dan lingkungan sosial budaya. Contohnya, suara gaduh dari lingkungan sekitar dapat menyebabkan komunikasi tidak berjalan lancar.

Berikut beberapa hambatan dalam proses komunikasi antarbudaya:

1.    Racilialism (Rasilialisme)

Mengabaikan adanya perbedaan antara kita dan kelompok yang secara kultural berbeda.

2.    Stereotyping (Stereotipe)

Asumsi bahwa semua orang yang ada dalam satu kelompok itu sama. Padahal dalam tiap kultur memiliki subkultur masing-masing.

3.    Perception (Persepsi)

Dalam komunikasi antarbudaya membentuk sebuah makna yang berbeda dari yang menerimanya.

4.    Cultural Norms and Value (Norma dan Nilai Kebudayaan)

Nilai dapat bersifat secara ekplisit (dinyatakan terbuka dalam penilaian nilai) atau secara implisit (disimpulkan dari perilaku nonverbal), dan dapat dipegang atau dilihat secara individual sebagai bagian dari pola atau sistem budaya.

5.    Ethnocentrism (Etnosentrisme)

Menilai perbedaan secara negatif, dan hal inilah yang membuat hambatan dalam proses komunikasi antarbudaya.

6.    Culture Shock (Kejutan Budaya)

Kejutan ini timbul karena perasaan asing, menonjol dan berbeda dari yang lain.

Sikap-sikap tersebut merupakan hambatan dalam proses komunikasi, terutama komunikasi antarbudaya. Oleh karena itu, ada beberapa sikap yang harus dipelihara oleh peserta komunikasi antarbudaya, yakni: kesamaan makna/ bahasa/ pesan non verbal, keterbukaan, empati, perasaan positif, dukungan, keseimbangan, menghormati anggota budaya lain sebagai budaya, menghoramati budaya lain apa adanya, menghormati hak anggota budaya lain untuk bertindak berbeda dari cara kita bertindak.

Tipe Dakwah dalam Komunikasi Lintas Budaya

6 tipe/pola dakwah yaitu:

1.    Dakwah Nafsiyah

Istilah Nafsiyah dapat diartikan pola sikap, adalah cara yang digunakan seseorang untuk memenuhi tuntutan gharizah (naluri) dan hajat al-’adhawiyah (kebutuhan jasmani); yakni upaya memenuhi tuntutan tersebut berdasarkan kaidah yang diimani dan diyakininya. Dakwah Nafsiyah adalah proses dakwah yang terjadi dalam diri pribadi seseorang.[3]

2.    Dakwah Fardiyah

Definisi yang sederhana dari dakwah fardiyah adalah konsentrasi dengan dakwah atau berbicara dengan mad’u secara tatapmuka atau dengan sekelompok kecil dari manusia yang memiliki ciri-ciri dan sifat-sifat khusus. Adapun bentuk atau macam dari dakwah fardiyah ini bias dibagi menjadi dua bagian.

Pertama, dakwah fardiyah yang muncul dari individu yang sudah bergabung dengan jamaah. Maksudnya, setiap individu yang ada dalam suatu jamaah dalam kapasitasnya sebagai da’i, melaksanakankewajiban berupa interaksi yang intens dengan tendensi tertentu dengan orang-orang baru, dalam upaya menarik mereka kepada fikrah Islamiyah dan selanjutnya menarik mereka untuk bergerak bersama jamaah dalam aktivitas amal Islami (Fathi Yakan, 16).

Kedua, dakwah fardiyah yang muncul dari individu yang belum tergabung kepada suatu jamaah. Seorang muslim dengan kapasitasnya sebagai bagian dari ummah, melaksanakan kewajiban dakwah dengan cara ceramah, khutbah dan tulisan yang akitivitas ini tidak mempunyai kaitan jamaah dan organisasi atau tatanan hirarki.[4]

3.    Dakwah Fi’ah

Dakwah fi’ah adalah dakwah yang dilakukan seorang da’i terhadap kelompok kecil dalam suasana tatap muka, bisa berdialog serta respon mad’u terhadap da’i dan pesan dakwah yang disampaikan dapat diketahui seketika. Dengan demikian terdapat beberapa ciri bagi dakwah fi’ah diantaranya yaitu: mad’u berupa kelompok kecil dapat berlangsung secara tatap muka dan dialogis, kelompok mad’u akan bermacam-macam tergantung pada momen bentuk penyelenggaraan kegiatan, media, metode, dan tujuan dakwah berdasarkan pertimbangan bentuk penyelenggaraan kegiatan.[5]

4.    Dakwah Hizbiyah

Dakwah hizbiyah adalah dakwah yang mengajak pada kelompok atau golongan tertentu yang menyimpang dari sunah dan manhaj yang shahih yang ditinggalkan oleh salafus shalih. Dakwah hizbiyah juga merupakan dakwah jamaah yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan lembaga itu sendiri. Dikaitkan dengan Model Komunikasi dakwah umum yaitu dakwah yang disampaikan kepada masyarakat umum yang memiliki latar belakang berbeda-beda, berbeda karena status sosial, profesi pendidikan, etnis, usia dan sebagainya. Model dakwah ini sesungguhnya lebih heterogen karena sasaran dakwahnya heterogen. Heterogenitas sasaran dakwah sangat alamiah, dan dakwah berlaku secara universal.[6]

5.    Dakwah Ammah

Berdakwah dengan cara menyampaikan sesuatu secara lisan kepada orang banyak. Tujuan dari Dakwah ammah adalah menanamkan sebuah faham agar orang yang mendengar terpengaruh dengan ucapan yang disampaikan.Contoh dari Dakwah amma bisa dalam bentuk ceramah atau dalam ranah yang lebih formal adalah Khutbah karena memiliki rukun yang harus dilaksanakan tertib.[7]

6.    Dakwah Syu’ubiyah Qabailiyah

Dakwah Syu’ubiyah Qabailiyah (dakwah antar suku, budaya dan bangsa),dimana Da’i dan mad’u berbeda suku dan budaya dalam satu kesatuanbangsa atau pun berbeda bangsa.[8]  Teori Dakwah Syu’ubiyah, ialah proposisi-proposisi yang dihasilkan dari penerapan metode istinbath, iqtibas dan istiqra dalam penelitian dakwah antar bangsa, di mana da’i dan mad’unya berlainan suku bangsa dan budaya tidak dalam suatu kesatuan wilayah kebangsaan.

Teori Dakwah Qabiliyah, yaitu proposisi-proposisi hasil penelitian dengan menerapkan metode istinbath, iqtibas dan istiqra mengenai proses dakwah yang terjadi antar suku dan budaya yang berlainan antara mad’u dan dai’nya namun masih dalam wiliyah kesatuan bangsa. Dakwah semacam ini dapat berlangsung dalam konteks dakwah fardiyahh, fi’ah, hizbiyah maupun ummah.[9]

Kompetensi Komunikasi Antarbudaya

Kompetensi merupakan sebuah kemampuan, perilaku yang pantas danefektif dalam suatu konteks tertentu. Komunikator yang kompeten merupakan seseorang yang memiliki kemampuan untuk berinteraksi secara efektif dan pantas dengan anggota dari latar belakang linguistik-kultural yang berbeda. Seseorang dapat berinteraksi dengan baik jika memiliki motivasi untuk berkomunikasi, pengetahuan yang cukup, kemampuan komunikasi yang sesuai, sensitivitas dan memiliki karakter (Porter & McDaniel, 2010: 460-461). Sedangkan kompetensi antarbudaya menurut Bennet dan Bennet adalah kemampuan berkomunikasi efektif dalam situasi lintas budaya dan berhubungan layak dalam berbagai konteks budaya (Moodian dalam Mulyana, 2011: xi).

Komunikator antarbudaya yang kompeten adalah seseorang yang mampu berkomunikasi beda budaya dan jika dia bisa mengatasi respon emosinya ketika mengalami kecemasan dan kecanggungan. Biasanya memiliki tantangan dalam perbedaan bahasa, perilaku dan kebiasaan asing yang aneh dan variasi budaya baik verbal maupun non verbal.

Komponen kompetensi komunikasi antarbudaya adalah sebagai berikut:

  1. Motivasi untuk berkomunikasi
  2. Memiliki pengetahuan cukup mengenai budaya lain
  3. Kemampuan komunikasi yang cukup
  4. Sensitif
  5. Karakter yang baik

Dua pendekatan dalam etika komunikasi antarbudaya:

  1. Fundamentalism

Sering disebut Moral Absolutism dan peracaya bahwa ada moral yang definitive yang dilakukan oleh manusia setiap waktu, moral yang universal.

  1. Culture Relativism

Nilai dan moral sangat terikat budaya, hanya tergantung cara pandang budaya tersebut.

Hambatan dan Tantangan Dakwah Multkultural

Hambatan Dakwah Multikultural

  1. Etnosentris

Fanatisme yang berlebihan terhadap pendapat pribadi dan golongan, sehingga apriori beranggapan menolak pendapat orang lain dari luar kelompok atau jamaahnya (biasanya disertai meremehkan masyarakat dan budaya lain)

  1. Indiskriminasi

Tidak mampu mengidentifikasi perbedaan atau keunikan, indiskriminasi merupakan pengingkaran kekhasan orang lain

  1. Prasangka (Prejudice)

Menurut Sears, prasangka berkaitan dengan persepsi. Apabila seseorang atau sekelompok orang memiliki pengalaman yang buruk terhadap orang atau kelompok lainnya, maka pada dirinya akan timbul suatu persepsi yang kurang baik. Persepsi kurang baik inilah yang menjadi prasangka yang menetap.

  1. Stereotipe (Stereotype)

Prasangka sosial bergandengan dengan stereotip yang merupakan gambaran atau tanggapan mengenai sifat atau watak pribadi seseorang atau golongan lain yang bercorak negatif.

  1. Perbedaan kepentingan

Kepentingan akan membuat orang selektif dalam menanggapi dan menghayati pesan. Orang hanya akan memperhatikan stimulus atau pesan yang ada hubungannya dengan kepentingannya.

  1. Motivasi

Motif merupakan semua penggerak, alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang membuat manusia berbuat sesuatu.

  1. Faktor semantik

Hambatan komunikasi yang disebabkan karena kesalahan pada bahasa, baik pada komunikator maupun komunikan.

  1. Kesalahan intepretasi bahasa non verbal

Orang dari budaya berbeda memiliki realitas sensori (indrawi) yang berbeda pula. Mereka melihat, mendengar dan merasakan hanya pada apa yang dianggap bermakna bagi mereka (sesuai dengan budaya tempat mereka berada).

  1. Perbedaan budaya dan norma sosial

Perbedaan budaya sekaligus menimbulkan perbedaan norma sosial yang berlaku di etnik masyarakat. Karena budaya dan norma sosial itu dihargai dan kemudian ditaati dalam kehidupan sehari-hari, maka pelanggaran terhadap keduanya tentu akan mendapatkan sanksi, yang berbeda tingkatan pada tiap masyarakat.

Tantangan Dakwah Multikultural

  1. Perbedaan antara norma dengan pengalaman agama
  2. Agama dan sekularisme
  3. Konflik kelompok tradisional dengan kelompok modernis


[1] Arifin, Ilmu Komunikasi.

[2] E .M. Rogers dan F.F. Shoemaker,Comunication of Innovations (New York: The FreePress, 1981)

[3] Fahriansyah, Alhadharah Jurnal Ilmu Dakwah Vol.14 No.27, Januari-Juni 2015

[4] Muhammad Ivan Alfian, AT-TABSYIR: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Vol. 3, No.1 Juni 2015

[5] Enjang. Dasar-Dasar Ilmu Dakwah. (Widja Padjadjaran.2009)

[6] Ismawati, Syamsuddin SR & Nase, Model Dakwah Hizbiyah. Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 4 (2018) 370-388

[8] Enjang, Aliyudin. Dasar-Dasar Ilmu Dakwah. (Bandung : Widya Padjadjaran)

[9] Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, (Jakarata: PT Rajagrafindo Persada, 2011)

Komentar

Postingan Populer