MINI BOOK

 

MINI BOOK

“Dakwah Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya”

 






DOSEN PENGAMPU:

Abu Amar Bustomi, M.Si

 

DISUSUN OLEH:

VENNA NARULITA RIZQI

B01219052

 

 

 

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

2021


Kata Pengantar

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya sehingga penulis berhasil menyusun mini book tentang “Dakwah Multikultural dan Komunikasi Lintas Budaya” dengan baik. Sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada baginda Rasulullah SAW beserta para sahabat beliau.

Penulis menyadari bahwa mini book ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan di dalamnya, oleh karena itu penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya.

Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Abu Amar Bustomi, M.Si, selaku dosen yang telah mengajar dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Demikian mini book ini penulis buat, penulis ucapkan terimakasih.

 

Surabaya, 08 April 2021

Penyusun

 

 


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.. 2

DAFTAR ISI 3

BAB I 4

DAKWAH MULTIKULTURALDALAM LINTAS BUDAYA.. 4

BAB II 6

BASIS DAN PENDEKATAN DAKWAH MULTIKULTURAL. 6

BAB III 9

TUJUAN, FUNGSI DAN PERANAN DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA   9

BAB IV.. 11

DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTAR ETNIK, RAS DAN BANGSA.. 11

BAB V.. 14

DAKWAH DALAM KAJIAN POLA KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA.. 14

BAB VI 18

MENGENAL UNSUR KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM BERDAKWAH.. 18

BAB VII 20

Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non Verbal dalam Ilmu ad-Dakwah.. 20

BAB VIII 22

HAMBATAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM DAKWAH MULTIKULTURAL MODEREN   22

BAB IX.. 30

BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH.. 30

 

 


BAB I

DAKWAH MULTIKULTURALDALAM LINTAS BUDAYA

Dakwah adalah suatu kegiatan yang bersifat mengajak dan memanggil orang untuk berbuat kebaikan dan taat kepada Allah SWT. Dakwah adalah usaha menyerukan dan menyampaikan konsepsi Islam tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia dengan metodenya serta berbagai macam cara dan media yang diperbolehkan untuk membimbing dalam kehidupan masyarakat dan kehidupan bernegara.

Multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri atas banyak struktur kebudayaan. Makna dakwah dan komunikasi adalah sama, menyampaikan pesan pada komunikan. Sedangkan dakwah multikultur dalam lintas budaya berarti upaya menciptakan keharmonisan ditengah masyaraat yang beragam dan tetap mampu mengendalikan diri dan bertoleransi terhadap segala bentu perbedaan.

Allah SWT menciptakan manusia dengan suku, ras dan bangsa yang berbeda agar mereka saling mengenal. Disitulah mereka belajar agar saling mengenal, saling mengerti dan saling memperoleh manfaat, baik moral dan material. Adanya perkenalan tersebut bisa menginspirasi semu pihak untuk menjadi lebih baik dari yang lain.

Untuk menarik perhatian komunikan multikultur tentunya dibutuhkan sebuah pendekatan. Pendekatan dakwah ini merupakan titik tolak atas sudut pandang kita terhadap dakwah. Pendekatan ini haruslah bertumpu pada human oriented, dengan menempatkan manusia sebagai mitra dakwah. Pendekatan yang bisa dilakukan adalah pendekatan budaya dan bahasa, pendidikan dan psikologis.

Pendekatan persuasif juga bisa dilakukan dengan menghargai nilai budaya dan adat istiadat. Faktor penentnya adalah bukan dengan cara memaksa, menakut-nakuti dan intimidasi yang tidak sesuai dengan agama Islam sebagai agama perdamaian. Pendekatan multikulturalisme ini merpakan sebah pemikiran yang fokus pada penyampaian pesan Islam dalam konteks masyarakat plural dengan berdialog untuk mencari titik kesepakatan yang mungkin disepakati dan tidak.

Dakwah lintas budaya merupakan sebuah proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar da’i dan mad’u. Hakikatnya, dakwah lintas budaya merupakan cara bagaimana berdakwah dengan menggunakan budaya tersebut sehingga bisa diterima dalam masyarakat.

Kajian dakwah antar budaya memiliki ruang lingkup kajian ilmu dakwah yang meliputi:

  1. Mengkaji dasar-dasar tentang adanya interaksi simbolik da’i dengan mad’u yang berbeda latarbelakang budaya yang dimilikinya dalam perjalanan dakwah para da’i.
  2. Menelaah unsur-unsur dakwah dengan mempertimbangkan aspekbudaya yang berhubungan dengan unsur da’i, materi, metode, media, mad’u dan dimensi ruang dan waktu dalam keberlangsungan interaksi berbagai unsur dakwah.
  3. Mengkaji tentang karakteristik-karakteristik manusia baik posisinya yang menjadi da’i maupun yang menjadi mad’u melalui kerangka metodologi dalam antropologi.
  4. Mengkaji tentang upaya-upaya dakwah yang dilakukan oleh masing-masing etnis.
  5. Mengkaji problem yang ditimbulkan oleh pertukaran antar budaya danupaya-upaya solusi yang dilakukan dalam rangka mempertahankaneksistensi jati diri budaya masing-masing.

 


BAB II

BASIS DAN PENDEKATAN DAKWAH MULTIKULTURAL

Basis dakwah multikultural dikaji melalui telaah doktrin Islam yakni melalui perspektif tafsir agar diperoleh pandangan yang lebih holistik dari sudut Qur’ani. multikultural merujuk kepada konsep kebinekaan yang bersifat multi dimensi yang meliputi aspek bahasa, warna kulit, budaya, suku, etnis, bangsa, dan agama. Bila merujuk kepada Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa fakta multikultural umat manusia merupakan kehendak sekaligus sunnatullah bagi kehidupan umat manusia sepanjang sejarah.

Basis pemikiran dakwah multikultural sejatinya berangkat dari pandangan klasik dakwah kultural, yakni pengakuan doktrinal Islam terhadap keabsahan eksistensi kultur dan kearifan lokal yang tidak bertentangan dengan prinsip tauhid. Intinya, pendekatan multikulturalisme dalam dakwah berusaha untuk mencapai dua hal, yaitu titik temu dalam keragaman, dan toleransi dalam perbedaan.

Dakwah hanya terbatas pada media informatif. Kita hanya ingin mencoba bahwa “agama adalah pesan” (al-din-u alnashihah). Sampai di sini dakwah memiliki keterbatasan (untuk tidak mengatakan kelemahan), agar manusia berendah diri dan jauh dari kesombongan. Da‘i hanyalah perantara, penyampai tidak lebih dari itu.

Tugas Nabi Muhammad pun tidak lebih daripada menyampaikan, yaitu memberi tahu, memperingatkan, dan membimbing manusia. Keberhasilan atau kegagalan dakwah bukanlah tanggungjawabnya, melainkan tanggungjawab Allah. Allah lah yang menentukan, membimbing, atau membiarkan siapa saja yang dikehendakiNya. Dakwah tidak bisa meniscayakan agama yang beraneka ragam. Karena ada keanekaragaman itu, maka ada misi dakwah. Agama yang membawa misi kebahagiaan, memungkinkan menjadi sarang konflik tatkala tafsiran eksklusif muncul dari masing-masing agama.

Dakwah multikultural sejatinya berangkat dari pandangan klasik dakwah kultural, yakni pengakuan doktrinal Islam terhadap keabsahan eksistensi kulturdan kearifan lokal yang tidak bertentangan dengan prinsip tauhid. Hanya saja dakwah multikultural berangkat lebih jauh dalam hal intensitas atau keluasan cakupan kulturnya.

Pendekatan multikulturalisme mencoba melihat yang banyak itu sebagai keunikan tersendiri dan tidak seharusnya dipaksa untuk disatukan, tetapi tetap berjalan harmonis dalam keragaman. Intinya, pendekatan multikulturalisme dalam dakwah berusaha untuk mencapai dua hal, yaitu titik temu dalam keragaman, dan toleransi dalam perbedaan. Dakwah dengan pendekatan multikulturalisme adalah sebuah pemikiran dakwah yang concern pada penyampaian pesan-pesan Islam dalam konteks masyarakatplural dengan cara berdialog untuk mencari titik temu atau kesepakatan terhadap hal-hal yang mungkin disepakati, dan berbagai tempat untuk hal-hal yang tidak dapat disepakati.

Dakwah Multikultural memiliki lima pendekatan, yaitu:

  1. Pendekatan dakwah multikultural menilai bahwa dakwah tidak lagi secara eksplisit dimaksudkan untuk mengislamkan umat non muslim. Lebih dari itu, pendekatan dakwah multikultural menekankan agar target dakwah lebih diarahkan pada pemberdayaan kualitas umat dalam ranah internal,dan kerja sama serta dialog antar-agama dan budaya dalam ranah eksternal.
  2. Dakwah multikultural menggagas ide tentang kesetaraan hak-hak warga negara (civil right), termasuk hak-hak kelompok minoritas. Tujuan dari program dakwah ini, terutama dimaksudkan agar seluruh kelompok etnis dan keyakinan mendapat pengakuan legal dari negara dari satu aspek, dan bebasnya penindasan atas nama dominasi mayoritas dari aspek yang lain.
  3. Dakwah multikultural memilih untuk mengambil pendekatan kultural ketimbang harakah (salafi jahidy). Seperti telah disinggung, bahwa pendekatan multikultural sejatinya merupakan kelanjutan dari pendekatan dakwah kultural dengan perbedaan pada tingkat keragaman dan pluralitasnya. Dalam masyarakat multikultural, sepanjang terbebas dari kepentingan politik, keragaman keyakinan dan budaya itu sesungguhnya merupakan fakta yang dapat diterima oleh semua pihak. Adapun konflik yang sering terjadi antar-keyakinan dan agama, sejatinya adalah efek negatif dari perebutan kepentingan dalam ranah politik.
  4. Dakwah multikultural menggagas ide dialog antar-budaya dan keyakinan (intercultur-faith understanding). Dalam merespons fenomena globalisasi yang sedikit demi sedikit menghapus sekat-sekat antar-budaya dan agama sekarang ini.
  5. Melakukan reinterpretasi dan rekonstruksi paham Islam, sesuai dengan perkembangan masyarakat global-multikultural. Seperti telah disinggung, doktrin-doktrin Islam klasik seperti terkodifikasi dalam kitab-kitab yang sampai kepada kita sekarang ini adalah sebuah penafsiran Islam, dan bukan Islam itu sendiri. Karena ini, ia tidak tertutup tetapi terbuka untuk dikritisi dan ditafsir ulang. Penafsiran baru ajaran Islam itu harus berimbang, berpijak dari orisinalitas tradisi di satu pihak, tetapi harus terbuka kepada ide-ide perkembangan keilmuan kontemporer dipihak lain.

 


BAB III

TUJUAN, FUNGSI DAN PERANAN DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA

Komunikasi dakwah menurut Wahyu Ilahi adalah proses penyampaian informasi atau pesan dari seseorang atau sekelompok orang kepada lainnya yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis dengan menggunakan lambang, dengan tujuan untuk merubah sikap, pendapat atau perilaku orang lain sesuai ajaran Islam baik itu melalui media atau lisan. Dakwah dalam literatur Islam komunikasi dakwah dipahami sebagai ajakan kepada manusia ke jalan tuhan berdasarkan ayat al-Qur’an surat an-Nahl ayat  125.

Kita mengenal bahasa untuk bisa dijadikan pengantar dakwah. Banyaknya budaya di Indonesia tentu saja membuat banyak nya bahasa yang ada. Bahasa sendiri memiliki tiga fungsi utama, yaitu fungsi ideasional, fungsi interpersonal, dan fungsi tekstual. Fungsi yang pertama yakni sebagai komunikasi atau pertukaran komunikasi. Bahasa merupakan sarana yang digunakan untuk menyampaikan maksud, pikiran, ide maupun perasaan kepada orang lain.

Bahasa memungkinkan manusia untuk menyampaikan informasi dan meneruskan informasi tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui ungkapan secara tertulis. Bahasa juga dapat mempengaruhi arah perilaku manusia. Dalam dakwah, fungsi ini juga memudahkan pemahaman antara da’i dengan mad’u. Fungsi bahasa yang kedua adalah sebagai penunjuk identitas. Beberapa negara sangat bangga dengan bahasa yang mereka miliki, seperti Perancis dengan bahasanya yang dianggap sebagai salah satu bahasa romantis. Lalu ada juga Korea, Thailand atau Vietnam, dan Jepang yang bangga dengan bahasa mereka sendiri.

Fungsi yang ketiga adalah sebagai pemersatu. Ketika kita memiliki bahasa yang sama, maka kita akan merasa sebagai satu masyarakat yang berasal dari satu wilayah yang sama atau memiliki kesamaan satu sama lain. Dalam dakwah juga seperti itu, apabila mad’u memiliki bahasa yang sama dengan da’i maka mereka merasa berada dalam satu kesatuan.

Secara umum tujuan komunikasi antarbudaya antara lain untukmenyatakan identitas sosial dan menjembatani perbedaan antarbudaya melaluiperolehan informasi baru, mempelajari sesuatu yang baru yang tidak pernah adadalam kebudayaan, serta sekedar mendapatkan hiburan atau melepaskan diri. Menurut tujuan dan fungsi, komunikasi lintas budaya bersifat kognitif dan afektif yaitu mempelajari komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi komunikasi itu sendiri.

Dalam segi fungsi dakwah adalah ilmu yang mengkaji tentang mengajak umat manusia kepada jalan Allah yang kemudian dikembangkan dan dibangun dengan metode ilmiah, sehingga dapat berfungsi memahami, memprediksi dan menjelaskan berbagai fenomena yang terkait dengan dakwah.

Tujuan komunikasi dakwah lintas budaya dengan menggunakan metode dakwah yang tidak menghapus budaya atau tradisi lama menjadikan diterimanya ajaran Islam di tengah masyarakat. Islam menjadi lebih fleksibel dan mudah diterima seluruh lapisan masyarakat meski memiliki perbedaan.

 

Fungsi dakwah komunikasi lintas budaya yang pertama mengajarkan dan mengenalkan nilai-nilai ajaran Islam kepada budaya masyarakat, yang kedua menjelaskan secara sistematis fenomena yang berkembang berkaitan dengan proses dakwah, yang ketiga menjadi perantara dalam proses komunikasi antarbudaya, yang keempat mengawasi praktik komunikasi antarbudaya antara komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan dakwah sebagai suatu variabel dan problematika kehidupan sosial.

Maka keberadaan dakwah dalam suatu komunikasi dapat dilihat dari sisi dan peran dalam mempengaruhi perubahan sosial tersebut dakwah dalam komunikasi lintas budaya bertujuan dan berfungsi untuk dapat mencegah terjadinya konflik keagamaan dalam masyarakat serta pesan dakwah yang menyampaikan nilai ketuhanan sejatinya harus memakai nilai-nilai toleransi persaudaraan dan sebagai internal umat beragama serta sebagai upaya demi terciptanya kerukunan antar umat beragama.


BAB IV

DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTAR ETNIK, RAS DAN BANGSA

Komunikasi antarbudaya merupakan proses komunikasi latar belakang budaya yang berbeda, seperti antar suku dan ras. Hakikatnya komunikasi antar budaya ini adalah proses yang interaktif antar komunikator dan komunikan. Komunikasi antar budaya juga dapat diartikan sebagai proses antara dua individu dengan perbedaan kebiasaan termasuk juga agama. Secara umum komunikasi budaya ini rawan akan konflik karena perbedaan makna dalam suatu kebiasaan. Kesalahan persepsi seringkali terjadi diantara dua kelompok atau orang dengan latar belakang yang berbeda. Menurut Hall, “Budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya” dengan kata lain ketika kita membahas kedua hal tersebut sulit untuk menentukan mana yang menjadi suara dan mana yang menjadi gemanya, karena mempelajari komunikasi dan budaya merupakan sebuah refleksi budaya.[1]

Selain komunikasi antarbudaya, adapun komunikasi lain yang eksistensinya tidak kalah dengan komunikasi antarbudaya. Komunikasi politik contohnya, menurut Mc Nair yang dikutip oleh Hafied Cangara murnimembicarakan tentang alokasi sumber daya publik yang memiliki nilai, apakahitu nilai kekuasaan atau nilai ekonomi, petugas yang memiliki kewenanganuntuk memberi kekuasaan dan keputusan dalam pembuatan undang-undangatau aturan, apakah itu legislatif atau eksekutif, serta sanksi-sanksi apakah itudalam bentuk hadiah atau denda.[2]Ada juga komunikasi kesehatan, adalah proses komunikasi yang terjadi dalam lingkup paramedis. Kemudian komunikasi terapeutik, adalah komunikasi yang bukan hanya dalam lingkup paramedis tapi juga para terapis dan perawat. Lalu komunikasi dakwah yang merupakan suatu metode dalam penyampaian komunikasi falam menyampaikan nilai islam. terakhir ada komunikasi krisis dan bencana yang isinya seperti sekarang tentang virus dan krisis ekonomi.

Banyaknya budaya juga berpengaruh pada agama. Agama di Indonesia yang beragam membuat masyarakatnya juga menganut perbedaan. Dalam islam, tidak ada yang melarang untuk membantu dan berhubungan baik dengan pemeluk agama lain dalam bentuk apapun selama itu tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan ibadah wajib.[3] Menurut Sardar dalam Jurnal Pancasila dan Kewrganegaraan, membina sikap toleransi umatberagama di Indonesia menjadi tanggungjawab sosial bersama dan merupakan budaya positif yang perlu dilanjutkan. Pandangan ini muncul dilatarbelakangi oleh seringnya terjadinya konflik hubungan antar umat beragama di Indonesia.[4]

Agama yang beragam membuat kita tak bisa lepas dari konflik keagamaan yang marak terjadi. Keberagaman yang eksklusif serta adanya kontestasi dalam kelompok memicu gesekan antar umat beragama. Dengan demikian moderasi beragama merupakan sebuah jalan tengah di tengah keberagaman agama di Indonesia. Moderasi merupakan budaya Nusantara yang berjalan seiring,dan tidak saling menegasikan antara agama dan kearifan lokal (local wisdom). Tidak saling mempertentangkan namun mencari penyelesaian dengan toleran.[5]

 

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika tertulis pada lambang negara Indonesia yaitu Garuda Pancasila. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Makna Bhinneka Tunggal Ika adalah meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap satu kesatuan. Semboyan ini menggambarkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang memiliki keberagaman suku bangsa, budaya, bahasa daerah, agama dan kepercayaan, ras maupun antargolongan.

 

Keberagaman masyarakat Indonesia memiliki arti penting sebagai berikut: Keberagaman tersebut akan menjadi modal sosial yang besar untuk membangun bangsa dan negara Indonesia yang maju dan sejahtera. Sebaliknya, bila keberagaman tersebut tidak dapat dikelola dengan baik dan tidak dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, maka dapat menjadi penyebab timbulnya konflik yang membahayakan keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Dengan demikian, semboyan Bhinneka Tunggal Ika dipergunakan sebagai upaya mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Meskipun berbeda-beda suku bangsa, adat istiadat, ras dan agama, masyarakat Indonesia tetap bersatu dalam perjuangan mengisi kemerdekaan. Untuk mewujudkan cita-cita negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Keberagaman bukan unsur perpecahan namun justru yang menciptakan kesatuan bangsa melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kesatuan adalah upaya untuk mempersatukan perbedaan suku, adat istiadat, ras dan agama untuk menjadi satu yaitu bangsa Indonesia.[6]

 


BAB V

DAKWAH DALAM KAJIAN POLA KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

Dasar Sosial dan Budaya Negara

Sistem sosial budaya merupakan konsep untuk menelaah asumsi-asumsi dasar dalam kehidupan masyarakat. Pemberian makna konsep sistem sosial budaya dianggap penting karena tidak hanya untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan sistem sosialbudaya itu sendiri tetapi memberikan eksplanasi deskripsinya melalui kenyataan didalam kehidupan masyarakat.

Politik Identitas dan Subkultur

Menguatnya politik identitas di ranah lokal bersamaan dengan politik desentralisasi. Pasca pemberlakuan UU No. 22/1999, gerakan politik identitas semakin jelas wujudnya. Bahkan, banyak aktor politik lokal maupun nasional secara sadar menggunakan isu ini dalam power-sharing.

Berbagai subkultur yang berbeda-beda tidak selalu sia-siadalam upaya merebut ruang dari budaya-budaya dominan karena memang tidak ada budaya dominan. Subkultur adalah sekedar ekspresi kebebasan konsumer untuk menciptakan budaya mereka sendiri.[7]

Sosiologi Dakwah

Sosiologi dakwah dapat dikatakan sebagai cabang dari sosiologi umum yang mengkaji masyarakat dakwah secara sosiologis, dengan tujuan mencari dan mengungkap fakta-fakta ilmiah demi kepentingan masyarakat dakwah khususnya dan masyarakat luas umumnya.

Ruang Lingkup Dakwah Antarbudaya

Kajian dakwah antar budaya memiliki ruang lingkup kajian ilmu dakwah yang meliputi: [8]

  1. Mengkaji dasar-dasar tentang adanya interaksi simbolik da’i dengan mad’u yang berbeda latar belakang budaya yang dimilikinya dalam perjalanan dakwah para da’i.
  2. Menelaah unsur-unsur dakwah dengan mempertimbangkan aspek budaya yang berhubungan dengan unsur da’i, materi, metode, media,mad’u dan dimensi ruang dan waktu dalam keberlangsungan interaksi berbagai unsur dakwah.
  3. Mengkaji tentang karakteristik-karakteristik manusia baik posisinya yang menjadi da’i maupun yang menjadi mad’u melalui kerangka metodologi dalam antropologi.
  4. Mengkaji tentang upaya-upaya dakwah yang dilakukan oleh masing-masing etnis.
  5. Mengkaji problem yang ditimbulkan oleh pertukaran antar budaya dan upaya-upaya solusi yang dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi jati diri budaya masing-masing (Aripudin, 2012. 55-56 )

Prinsip Dakwah Antarbudaya

Komunikasi berhubungan dengan perilaku manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan manusia-manusia lainnya. Hampir setiap manusia membutuhkan hubungan sosial dengan orang lain dan kebutuhan ini terpenuhi melalui pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia manusia yang tampa berkomunikasi akan terisolasi. Pesan muncul lewat perilaku manusia, sebelum perilaku disebut pesan, perilaku harus memenuhi dua syarat. Pertama perilaku harus diobservasi oleh seseorang, dan kedua perilaku harus mengandung makna. Artinya, setiap perilaku yang dapat diartikan atau mempunyai arti adalah suatu pesan. Kedua, perilaku mungkin disadari ataupun tidak disadari (terutama perilaku nonverbal),perilaku yang tidak disengaja ini menjadi pesan bila seseorang melihatnya dan menangkap suatu makna dari perilaku itu.[9]

Model Komunikasi Antarbudaya

Model komunikasi memberi teoritikus suatu struktur untuk menguji temuan mereka dalam dunia nyata. Gordon Wiseman dan Larry Baker mengemukakan bahwa model komunikasi mempunyai tiga fungsi : pertama melukiskan proses komunikasi; kedua menunjukkan hubungan visual; ketiga membantu dalam menemukan dan memperbaiki kemacetan komunikasi.[10]

Menurut Porter dan Larry A. Samovar, Budaya mempengaruhi perilaku komunikasi individu, budaya yang berbeda akan menghasilkan pengaruh serta sifat komunikasi yang berbeda pula. Ketika seorang individu berkomunikasi dengan individu lain yang memiliki kebudayaan berbeda maka makna pesan yang disampaikan komunikator akan berubah mengikuti persepsi budaya komunikan.

Menurut William B. Gudykunst dan Young Yun Kim, komunikasi yang dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari budaya yang berlainan, atau orang asing. Dalam model ini, masing-masing individu berperan sebagai pengirim sekaligus juga penerima pesan. Dengan begitu, pesan yang disampaikan seseorang merupakan umpan balik untuk lawan bicaranya. Terjadi penyandian serta penyandian balik pesan. Gudykunst dan Kim menyatakan bahwa penyandian dan penyandian balik pesan tersebut merupakan sebuah proses interaktif. Proses tersebut dipengaruhi oleh filter konseptual seperti budaya, sosiobudaya, psikobudaya, dan faktor lingkungan.

Dari model komunikasi Gudykunst dan Kim, penyandian pesan dan penyandian balik pesan merupakan proses interaktif yang dipengaruhi oleh filter-filter konseptual yang dikategorikan menjadi faktor faktor budaya, sosiobudaya, psikobudaya dan faktor lingkungan.[11]

Pengaruh budaya (cultural) meliputi faktor faktor yang menjelaskan kemiripan dan perbedaan budaya, misalnya pandangan dunia (agama), bahasa,sikap kita terhadap manusia yang berarti mempengaruhi nilai, norma, danaturan. Pengaruh sosiobudaya (sosiocultural) adalah pengaruh yang menyangkut proses penataan sosial. Proses ini berkembang berdasarkan interaksi dengan orang lain. Sosiobudaya ini menyangkut konsep diri, peran kita dalam kelompok, definisi kita mengenai hubungan antarpribadi. Pengaruh psikobudaya (psychocultural) meliputi dimensi penataan pribadi (proses yang memberi stabilitas pada proses psikologis). Faktor faktor psikobudaya inimeliputi stereotip dan sikap ( misalnya etnosentrisme dan prasangka). Salah satu unsur lagi yang mempengaruhi kita dalam menyandi pesan dan menyandibalik pesan adalah lingkungan (environment) dimana letak geografis, iklim,situasi arsitektural, dan persepsi terhadap lingkungan tertentu mempengaruhi kita dalam menafsirkan rangsangan dan memprediksikan penyandian balik pesan.


BAB VI

MENGENAL UNSUR KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM BERDAKWAH

Definisi yang pertama dikemukakan didalam buku “Intercultural Communication: A Reader” dimana dinyatakan bahwa komunikasi antar budaya (intercultural communication) terjadi apabila sebuah pesan (message) yang harus dimengerti dihasilkan oleh anggota dari budaya tertentu untuk konsumsi anggota dari budaya yang lain. (Samovar & Porter, 1994, p. 19).

Proses komunikasi melibatkan unsur-unsur sumber (komunikator), Pesan, media, penerima dan efek. Disamping itu proses komunikasi juga merupakan sebuah proses yang sifatnya dinamik, terus berlangsung dan selalu berubah, dan interaktif, yaitu terjadi antara sumber dan penerima.Proses komunikasi juga terjadi dalam konteks fisik dan konteks sosial, karena komunikasi bersifat interaktif sehingga tidak mungkin proses komunikasi terjadi dalam kondisi terisolasi. Konteks fisik dan konteks sosial inilah yang kemudian merefleksikan bagaimana seseorang hidup dan berinteraksi dengan orang lainnya sehingga terciptalah pola-pola interaksi dalam masyarakat yang kemudian berkembang menjadi suatu budaya.

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain dengan tujuan untuk mempengaruhi pengetahuan atau perilaku seseorang. Dari pengertian sederhana ini, maka kita bisa mengatakan bahwa suatu proses komunikasi tidak dapat berjalan dan berlangsung tanpa di dukung oleh unsur-unsur:

1. Sumber

2. Pesan

3. Media

4. Penerima

5. Pengaruh

6. Umpan balik

7. lingkungan[12]

Ada tujuh unsur budaya yang secara universal dapat mempengaruhi

persepsi kita ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain, yaitu:

1. Bahasa

2. Sistem teknologi

3. Sistem mata pencaharian

4. Organisasi social

5. Sistem pengetahuan

6. Religi

7. Kesenian.[13]


BAB VII

Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non Verbal dalam Ilmu ad-Dakwah

Komunikasi merupakan suatu proses yang dinamis yang dilakukan manusia melalui perilaku yang berbentuk verbal dan nonverbal yang dikirim, diterima, dan ditanggapi orang lain.[14] Proses itu meliputi informasi yang disampaikan tidak hanya lisan dan tulisan, tetapi juga dengan bahasa tubuh, gaya maupun penampilan diri, atau menggunakan alat bantu di sekeliling kita untuk memperkaya sebuah pesan.[15] Dalam hal ini, paling tidak ada tiga unsur sosial yang berhubungan persepsi, proses verbal dan proses nonverbal. Kedalam persepsi yang dibentuk terhadap orang lain ketika berkomunikasi terdapat tiga unsur yang mempunyai pengaruh besar dan langsung atas makna-makna yang dibangun yaitu, pertama sistem-sistem kepercayaan, nilai, dan sikap. Kedua,pandangan dunia (world view) dan yang ketiga, organisasi sosial.[16] Ketika ketiga unsur ini mempengaruhi persepsi manusia dan makna yang dibangun dalam persepsi maka unsur-unsur tersebut mempengaruhi aspek-aspek makna yang bersifat pribadi dan subyektif.

Setiap kelompok etnik memiliki keterikatan etnik yang sangat tinggi melalui sikap etnosentrisme. Etnosentrisme membimbing paraanggotanya untuk memandang kebudayaan mereka sebagai yang terbaik,terunggul daripada kebudayaan orang lain. Sikap etnosentrisme itu berbentuk prasangka, stereotip, jarak sosial dan diskriminasi terhadap kelompok lain.[17] Sama halnya dengan komunikasi, dakwah juga merupakan sebuah proses pertukaran informasi, gagasan, dan perasaan yang dilakukan pelaku dakwah (da‟i) melalui perilaku yang berbentuk verbal dan nonverbal yangdikirim (oleh da‟i) dan diterima dan ditanggapi oleh objek dakwah (mad‟u).

Komunikasi Verbal

Komunikasi verbal yaitu komunikasi yang mengerakkan simbol-simbol atau kata-kata, baik dinyatakan secara lisan maupun secara tulisan. Simbol verbal bahasa merupakan pencapaian paling impresif. Menurut Paulette J. Thomas, komunikasi verbal adalah penyampaian dan penerimaan pesan dengan menggunkan lisan dan tulisan. Lambang verbal adalah semua lambang yang digunakan untuk menjelaskan pesan dengan memanfaatkan kata-kata (bahasa).[18] Dalam dakwah komunikasi verbal dapat dilangsungkan dengan diskusi dan lain-lain.

Komunikasi vernal dapat dibedakan atas komunikasi lisan dan tulisan. Komunikasi lisan dapat mendefinisikan sebagai proses dimana seseorang berbicara, berinteraksi secara lisan dengan mendengar untuk mempengaruhi tingkah laku penerima. Sedangkan komunikasi tulisan adalah penjelasan yang disampaikan dengan simbol.

Komunikasi Non Verbal

Komunikasi non verbal dan verbal saling bekerja dalam proses komunikasi. Komunikasi non verbal adalah penciptaan dan pertukaran pesan dengan menggunakan gerak tubuh, sikap tubuh, vokal bukan kata-kata, kontak mata, ekspresi muka, kedekatan jarak, dan sentuhan. Atau dapat juga dikataan bahwa semua kejadian di sekeliling situasi yang tidak berhubungan dengan kata-kata yang diucapkan atau dituliskan.[19]

Komunikasi non verbal sebagai proses pertukaran pikiran dan gagasan dimana pesan yang disampaikan berupa isyarat, ekspresi wajah, pandangan mata, gerakan tubuh, sentuhan dan diam. Komunikasi verbal juga dapat diartikan sebagai komunikasi tanpa kata-kata.

 


BAB VIII

HAMBATAN KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM DAKWAH MULTIKULTURAL MODEREN

Hambatan dan Proses Komunikasi Antarbudaya

Menurut Badudu Zain, hambatan sering diartikan sebagai halangan atau rintangan yang dialami. Seringkali, komunikasi antar individu men-galamai hambatan yang disebabkan tidak adanya pengetahuan yang mendalam mengenai perbedaan latar belakang budaya pihak lain. Komunikasi antarbudaya ada diantara masyarakat yang mempunyai kebudayaan yang berbeda, baik dalam lingkungan suatu bangsa maupun lingkungan antar bangsa.[20] Karenanya komunikasi sangat berhubungan erat dengan perilaku manusia. Rogers dan Shoemaker mendefinisikan perilaku sebagai wujud dari tindakan dan sikap, sedangkan sikap dipengaruhi oleh persepsi, dan persepsi dipengaruhi oleh karakteristik individu.[21]

Charley H. Dood menjelaskan komunikasi antarbudaya dalam konteks komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi, antarpribadi dan kelompok dengan tekanan pada perbedaan latar belakang budaya yang mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta.  Sedangkan Samovar dan Porter merumuskan komunikasi antar budaya sebagai komunikasi antara orang-orang yang berbeda kebudayaan, misalnya antara suku bangsa, antaretnik dan ras serta antar kelas sosial.

Secara umum, hambatan terbagi menjadidua, yakni hambatan internal dan hambatan eksternal. Hambatan internal adalah hambatan yang berasal dari dalam diri individu yang terkait kondisi fisik dan psikologis. Contohnya, jika seorang mengalami gangguan pendengaran maka ia akan mengalami hambatan komunikasi. Demikian pula seseorang yang sedang tertekan (depresi) tidak akan dapat melakukan komunikasi dengan baik. Sedangkan hambatan eksternal, adalah hambatan yang berasal dari luar individu yang terkait dengan lingkungan fisik dan lingkungan sosial budaya. Contohnya, suara gaduh dari lingkungan sekitar dapat menyebabkan komunikasi tidak berjalan lancar.

Berikut beberapa hambatan dalam proses komunikasi antarbudaya:

1.    Racilialism (Rasilialisme)

Mengabaikan adanya perbedaan antara kita dan kelompok yang secara kultural berbeda.

2.    Stereotyping (Stereotipe)

Asumsi bahwa semua orang yang ada dalam satu kelompok itu sama. Padahal dalam tiap kultur memiliki subkultur masing-masing.

3.    Perception (Persepsi)

Dalam komunikasi antarbudaya membentuk sebuah makna yang berbeda dari yang menerimanya.

4.    Cultural Norms and Value (Norma dan Nilai Kebudayaan)

Nilai dapat bersifat secara ekplisit (dinyatakan terbuka dalam penilaian nilai) atau secara implisit (disimpulkan dari perilaku nonverbal), dan dapat dipegang atau dilihat secara individual sebagai bagian dari pola atau sistem budaya.

5.    Ethnocentrism (Etnosentrisme)

Menilai perbedaan secara negatif, dan hal inilah yang membuat hambatan dalam proses komunikasi antarbudaya.

6.    Culture Shock (Kejutan Budaya)

Kejutan ini timbul karena perasaan asing, menonjol dan berbeda dari yang lain.

Sikap-sikap tersebut merupakan hambatan dalam proses komunikasi, terutama komunikasi antarbudaya. Oleh karena itu, ada beberapa sikap yang harus dipelihara oleh peserta komunikasi antarbudaya, yakni: kesamaan makna/ bahasa/ pesan non verbal, keterbukaan, empati, perasaan positif, dukungan, keseimbangan, menghormati anggota budaya lain sebagai budaya, menghoramati budaya lain apa adanya, menghormati hak anggota budaya lain untuk bertindak berbeda dari cara kita bertindak.

Tipe Dakwah dalam Komunikasi Lintas Budaya

6 tipe/pola dakwah yaitu:

1.    Dakwah Nafsiyah

Istilah Nafsiyah dapat diartikan pola sikap, adalah cara yang digunakan seseorang untuk memenuhi tuntutan gharizah (naluri) dan hajat al-’adhawiyah (kebutuhan jasmani); yakni upaya memenuhi tuntutan tersebut berdasarkan kaidah yang diimani dan diyakininya. Dakwah Nafsiyah adalah proses dakwah yang terjadi dalam diri pribadi seseorang.[22]

2.    Dakwah Fardiyah

Definisi yang sederhana dari dakwah fardiyah adalah konsentrasi dengan dakwah atau berbicara dengan mad’u secara tatapmuka atau dengan sekelompok kecil dari manusia yang memiliki ciri-ciri dan sifat-sifat khusus. Adapun bentuk atau macam dari dakwah fardiyah ini bias dibagi menjadi dua bagian.

Pertama, dakwah fardiyah yang muncul dari individu yang sudah bergabung dengan jamaah. Maksudnya, setiap individu yang ada dalam suatu jamaah dalam kapasitasnya sebagai da’i, melaksanakankewajiban berupa interaksi yang intens dengan tendensi tertentu dengan orang-orang baru, dalam upaya menarik mereka kepada fikrah Islamiyah dan selanjutnya menarik mereka untuk bergerak bersama jamaah dalam aktivitas amal Islami (Fathi Yakan, 16).

Kedua, dakwah fardiyah yang muncul dari individu yang belum tergabung kepada suatu jamaah. Seorang muslim dengan kapasitasnya sebagai bagian dari ummah, melaksanakan kewajiban dakwah dengan cara ceramah, khutbah dan tulisan yang akitivitas ini tidak mempunyai kaitan jamaah dan organisasi atau tatanan hirarki.[23]

3.    Dakwah Fi’ah

Dakwah fi’ah adalah dakwah yang dilakukan seorang da’i terhadap kelompok kecil dalam suasana tatap muka, bisa berdialog serta respon mad’u terhadap da’i dan pesan dakwah yang disampaikan dapat diketahui seketika. Dengan demikian terdapat beberapa ciri bagi dakwah fi’ah diantaranya yaitu: mad’u berupa kelompok kecil dapat berlangsung secara tatap muka dan dialogis, kelompok mad’u akan bermacam-macam tergantung pada momen bentuk penyelenggaraan kegiatan, media, metode, dan tujuan dakwah berdasarkan pertimbangan bentuk penyelenggaraan kegiatan.[24]

4.    Dakwah Hizbiyah

Dakwah hizbiyah adalah dakwah yang mengajak pada kelompok atau golongan tertentu yang menyimpang dari sunah dan manhaj yang shahih yang ditinggalkan oleh salafus shalih. Dakwah hizbiyah juga merupakan dakwah jamaah yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan lembaga itu sendiri. Dikaitkan dengan Model Komunikasi dakwah umum yaitu dakwah yang disampaikan kepada masyarakat umum yang memiliki latar belakang berbeda-beda, berbeda karena status sosial, profesi pendidikan, etnis, usia dan sebagainya. Model dakwah ini sesungguhnya lebih heterogen karena sasaran dakwahnya heterogen. Heterogenitas sasaran dakwah sangat alamiah, dan dakwah berlaku secara universal.[25]

5.    Dakwah Ammah

Berdakwah dengan cara menyampaikan sesuatu secara lisan kepada orang banyak. Tujuan dari Dakwah ammah adalah menanamkan sebuah faham agar orang yang mendengar terpengaruh dengan ucapan yang disampaikan.Contoh dari Dakwah amma bisa dalam bentuk ceramah atau dalam ranah yang lebih formal adalah Khutbah karena memiliki rukun yang harus dilaksanakan tertib.[26]

6.    Dakwah Syu’ubiyah Qabailiyah

Dakwah Syu’ubiyah Qabailiyah (dakwah antar suku, budaya dan bangsa),dimana Da’i dan mad’u berbeda suku dan budaya dalam satu kesatuanbangsa atau pun berbeda bangsa.[27]  Teori Dakwah Syu’ubiyah, ialah proposisi-proposisi yang dihasilkan dari penerapan metode istinbath, iqtibas dan istiqra dalam penelitian dakwah antar bangsa, di mana da’i dan mad’unya berlainan suku bangsa dan budaya tidak dalam suatu kesatuan wilayah kebangsaan.

Teori Dakwah Qabiliyah, yaitu proposisi-proposisi hasil penelitian dengan menerapkan metode istinbath, iqtibas dan istiqra mengenai proses dakwah yang terjadi antar suku dan budaya yang berlainan antara mad’u dan dai’nya namun masih dalam wiliyah kesatuan bangsa. Dakwah semacam ini dapat berlangsung dalam konteks dakwah fardiyahh, fi’ah, hizbiyah maupun ummah.[28]

Kompetensi Komunikasi Antarbudaya

Kompetensi merupakan sebuah kemampuan, perilaku yang pantas danefektif dalam suatu konteks tertentu. Komunikator yang kompeten merupakan seseorang yang memiliki kemampuan untuk berinteraksi secara efektif dan pantas dengan anggota dari latar belakang linguistik-kultural yang berbeda. Seseorang dapat berinteraksi dengan baik jika memiliki motivasi untuk berkomunikasi, pengetahuan yang cukup, kemampuan komunikasi yang sesuai, sensitivitas dan memiliki karakter (Porter & McDaniel, 2010: 460-461). Sedangkan kompetensi antarbudaya menurut Bennet dan Bennet adalah kemampuan berkomunikasi efektif dalam situasi lintas budaya dan berhubungan layak dalam berbagai konteks budaya (Moodian dalam Mulyana, 2011: xi).

Komunikator antarbudaya yang kompeten adalah seseorang yang mampu berkomunikasi beda budaya dan jika dia bisa mengatasi respon emosinya ketika mengalami kecemasan dan kecanggungan. Biasanya memiliki tantangan dalam perbedaan bahasa, perilaku dan kebiasaan asing yang aneh dan variasi budaya baik verbal maupun non verbal.

Komponen kompetensi komunikasi antarbudaya adalah sebagai berikut:

  1. Motivasi untuk berkomunikasi
  2. Memiliki pengetahuan cukup mengenai budaya lain
  3. Kemampuan komunikasi yang cukup
  4. Sensitif
  5. Karakter yang baik

Dua pendekatan dalam etika komunikasi antarbudaya:

  1. Fundamentalism

Sering disebut Moral Absolutism dan peracaya bahwa ada moral yang definitive yang dilakukan oleh manusia setiap waktu, moral yang universal.

  1. Culture Relativism

Nilai dan moral sangat terikat budaya, hanya tergantung cara pandang budaya tersebut.

Hambatan dan Tantangan Dakwah Multkultural

Hambatan Dakwah Multikultural

  1. Etnosentris

Fanatisme yang berlebihan terhadap pendapat pribadi dan golongan, sehingga apriori beranggapan menolak pendapat orang lain dari luar kelompok atau jamaahnya (biasanya disertai meremehkan masyarakat dan budaya lain)

  1. Indiskriminasi

Tidak mampu mengidentifikasi perbedaan atau keunikan, indiskriminasi merupakan pengingkaran kekhasan orang lain

  1. Prasangka (Prejudice)

Menurut Sears, prasangka berkaitan dengan persepsi. Apabila seseorang atau sekelompok orang memiliki pengalaman yang buruk terhadap orang atau kelompok lainnya, maka pada dirinya akan timbul suatu persepsi yang kurang baik. Persepsi kurang baik inilah yang menjadi prasangka yang menetap.

  1. Stereotipe (Stereotype)

Prasangka sosial bergandengan dengan stereotip yang merupakan gambaran atau tanggapan mengenai sifat atau watak pribadi seseorang atau golongan lain yang bercorak negatif.

  1. Perbedaan kepentingan

Kepentingan akan membuat orang selektif dalam menanggapi dan menghayati pesan. Orang hanya akan memperhatikan stimulus atau pesan yang ada hubungannya dengan kepentingannya.

  1. Motivasi

Motif merupakan semua penggerak, alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang membuat manusia berbuat sesuatu.

  1. Faktor semantik

Hambatan komunikasi yang disebabkan karena kesalahan pada bahasa, baik pada komunikator maupun komunikan.

  1. Kesalahan intepretasi bahasa non verbal

Orang dari budaya berbeda memiliki realitas sensori (indrawi) yang berbeda pula. Mereka melihat, mendengar dan merasakan hanya pada apa yang dianggap bermakna bagi mereka (sesuai dengan budaya tempat mereka berada).

  1. Perbedaan budaya dan norma sosial

Perbedaan budaya sekaligus menimbulkan perbedaan norma sosial yang berlaku di etnik masyarakat. Karena budaya dan norma sosial itu dihargai dan kemudian ditaati dalam kehidupan sehari-hari, maka pelanggaran terhadap keduanya tentu akan mendapatkan sanksi, yang berbeda tingkatan pada tiap masyarakat.

Tantangan Dakwah Multikultural

  1. Perbedaan antara norma dengan pengalaman agama
  2. Agama dan sekularisme
  3. Konflik kelompok tradisional dengan kelompok modernis

 


BAB IX

BUDAYA DAN KEARIFAN DAKWAH

Menurut teori komunikasi antar budaya, Edward T. Hall, komunikasi dan budaya memiliki hubungan sangat erat. Menurutnya, communication is culture and culture is communication. Hall terlebih dahulu membedakan budaya konteks tinggi (high context culture ) dengan budaya konteks rendah (low context culture). Budaya konteks rendah ditandai dengan komunikasi konteks rendah seperti pesan verbal dan eksplisit, gaya bicara langsung lugas dan berterus terang. Para penganut budaya ini mengatakan bahwa apa yang mereka maksudkan (the say what they mean) adalah apa yang mereka katakan (they mean what they say). Sebaliknya, budaya konteks tinggi, seperti kebanyakan pesan yang bersifat  implisit, tidak langsung dan tidak terus terang, pesan yang sebenarnya mungkin tersembunyi dibalik perilaku nonverbal, intonasi suara, gerakan tangan, pemahaman lebih kontekstual, lebih ramah dan toleran terhadap budaya masyarakat. Terkadang pernyataan verbal bisa bertentangan dengan pesan non-verbal. Manusia yang terbiasa berbudaya konteks tinggi lebih terampil membaca perilaku non-verbal dan juga akan mampu melakukan hal yang sama. Watak komunikasi konteks tinggi yaitu tahan lama, lamban berubah dan mengikat kelompok penggunanya. Orang-orang berbudaya konteks tinggi lebih menyadari proses penyaringan budaya daripada orang-orang berbudaya konteks rendah. Dalam kaitannya dengan aktivitas dakwah, pengkajiannya dengan pendekatan komunikasi konteks tinggi dan komunikasi konteks rendah. Bagaimana para da’i melakukan tugasnya sebagai pengayom masyarakat, penyelamat masyarakat dan memajukan masyarakat dengan pendekatanpendekatan yang lebih dekat dan ramah dengan budaya yang dianut masyarakat setempat (Aripuddin, 2011. 16).[29]

Dakwah kultural memiliki hubungan yang dekat dengan Islam kultural, karena dakwah kultural menekankan pendekatan Islam kultural. Kata kultural sendiri yang berada di belakang kata Islam berasal dari bahasa Inggris, culture yang berarti kesopanan, kebudayaan, dan pemeliharaan. Teori lain mengatakan bahwa culture berasal dari bahasa latin cultura yang artinya memelihara, mengerjakan, dan mengolah. Sementara itu Koentjaraningrat membagi kebudayaan dalam tiga wujud, (1) wujud ideal, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya, (2) wujud kelakuan, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktifitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan (3) wujud benda, yaitu wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya.[30]

Mengacu dari asumsi di atas, maka dapat dipahami bahwa dakwah kultural adalah sebuah upaya untuk mentranspormasikan pesan-pesan Islam kepada masyarakat tertentu dengan tetap memperhatikan realitas sosial yang ada, dengan prinsip bahwa bagaimana caranya agar Islam “tidak bertentangan” dengan kebiasaan masyarakat yang telah diyakini secara turun temurun, sebagaimana disinyalir oleh Allah pada ayat berikut:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِا لْحِكْمَةِ وَا لْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَا دِلْهُمْ بِا لَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِا لْمُهْتَدِيْنَ

ud'u ilaa sabiili robbika bil-hikmati wal-mau'izhotil-hasanati wa jaadil-hum billatii hiya ahsan, inna robbaka huwa a'lamu bimang dholla 'ang sabiilihii wa huwa a'lamu bil-muhtadiin

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk."

(QS. An-Nahl 16: Ayat 125)

 Memahami ayat ini dengan mulai dari kata al-Hikmah dapat dijabarkan dengan dakwah yang diperankan dengan cara-cara yang santun, relevan dengan kebutuhan dan kondisi umat atau dengan kata lain dakwah yang selalu menjadikan nilai-nilai lokal yang ada dalam masyarakat sebagai salah satu instrumen dakwah.  Pemahaman yang hampir sama disebutkan oleh Didin Hafidhuddin memahami istilah bi al-Hikmah pada ayat terbut dengan makna bahwa dakwah harus dilakukan dengan secara efesien, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan, karena itu sudah saatnya dibuat dan disusun stratifikasi sasaran dakwah secara objektif. Selanjutnya menurutnya dakwah dalam pengertian yang integralistik merupakan suatu proses yang berkesinambungan, yang ditangani oleh para da‟i untuk mengubah umat agar bersedia masuk ke jalan Allah Swt. secara bertahap menuju prikehidupan yang Islami.[31]

Pada prinsipnya Islam dan budaya tidak bertentangan, sebab keduanya sama-sama mengajarkan nilai-nilai kebaikan yang tujuannya membuat keteraturan bagi sekelompok manusia.  Karena itu, dalam konteks dakwah maka yang terpenting adalah bagaimana seorang da‟i harus mampu memahami nilai-nilai historis dan filosofis dari budaya yang berkembang di masyarakat, kemudian diinternalisasi dengan nilai-nilai keislaman. Walhasil lahirlah model budaya baru yang bisa disebut “budaya Islami”. [32]

 KLIK DISINI



[1] Deddy Mulyanan & Jalaludin Rakhmat. Komunikas Antar Budaya Panduan Berkomunikasidengan Orang-Orang Berbeda Budaya.(Bandung: PT.Remaja Rosdakarya,2006), hal 25

[2] Hafied Cangara, Komunikasi Politik: Konsep, Teori dan Strategi, (Jakarta: Rajawali Pers,2009), hlm. 36

[3] Abu Bakar. UIN Sultan Syarif Kasim Riau TOLERANSI: Media Komunikasi Umat Bergama,Vol.7, No.2 Juli-Desember 2015. Hlm 6

[4] Eko Digdoyo (2018).Kajian Isu ToleransiBeragama, Budaya, dan Tanggungjawab Sosial Media : Jurnal Pancasiladan Kewarganegaraan Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Vol 3 No 1 :Halaman 42 - 59

[5] Agus Akhmadi. “MODERASI BERAGAMA DALAM KERAGAMAN INDONESIARELIGIOUS MODERATION IN INDONESIA’S DIVERSITY”. Jurnal Diklat Keagamaan, Vol. 13, no. 2, Pebruari - Maret 2019

[7] Aniek Rahmaniah, Budaya dan Identitas, (Sidoarjo: Dwiputra Pustaka Jaya, 2012)

[8] Masykurotus Syarifah, Budaya dan Kearifan Lokal, E-Jurnal IAIN Surakarta Vol. 1, No. 1, Januari – Juni 2016

[9] Deddy Mulyana & Jalaludin Rahmat, Komunikasi Antar Budaya Panduan Berkomunikasidengan Orang-Orang Berbeda Budaya, (Bandung; PT. Remaja Rosdakarya, 2006), hal 12

[10]  Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar . hlm. 133

[11] Ibid, hlm. 170

[12] Hafied Cangara. Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2012). h.25

[13] M. Munandar Sulaeman. Ilmu Budaya Dasar (Pengantar ke Arah Ilmu Sosial Budaya Dasar/ISDB/Social Culture), (Bandung : PT Refika Aditarma, 2015). h.38

[14] Alo Liliweri, Makna Budaya Dalam Komunikasi Antarbudaya, Yogyakarta: LkiS, 2003,cet I, hlm 162

[15] Ibid, hlm. 3

[16] Richard E.Porter dan Larry A, Samovar, “ Suatu Pendekatan Terhadap KomunikasiAntarbudaya”, dalam Deddy Mulyana dkk (Ed.), Ibid, hlm 25-26

[17] Alo Liliweri, Op.Cit, hlm. 169

[18] A.W. Widjaya, Komunikasi Hubungan Manusia, h. 10

[19] Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi Pengantar, h.97

[20] Arifin, Ilmu Komunikasi.

[21] E .M. Rogers dan F.F. Shoemaker,Comunication of Innovations (New York: The FreePress, 1981)

[22] Fahriansyah, Alhadharah Jurnal Ilmu Dakwah Vol.14 No.27, Januari-Juni 2015

[23] Muhammad Ivan Alfian, AT-TABSYIR: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam Vol. 3, No.1 Juni 2015

[24] Enjang. Dasar-Dasar Ilmu Dakwah. (Widja Padjadjaran.2009)

[25] Ismawati, Syamsuddin SR & Nase, Model Dakwah Hizbiyah. Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 4 (2018) 370-388

[27] Enjang, Aliyudin. Dasar-Dasar Ilmu Dakwah. (Bandung : Widya Padjadjaran)

[28] Wahidin Saputra, Pengantar Ilmu Dakwah, (Jakarata: PT Rajagrafindo Persada, 2011)

[29] Jurnal al-Balagh – Vol.1 No.1 Januari-Juni 2016

[30] Sutan  Takdir Alisyahbana, Op.cit., h. 205.

[31] Didin Hafidhuddin, Dakwah Aktual, (Jakarta: Gema Insani, 1998), h. 79.

[32] Jurnal Tabligh Volume 19 No 1, Juni 2018 :1 – 19

Komentar

Postingan Populer